Pasang Banner Di Sini Hubungi Kami
Kamis, 06 Agustus 2009
Perayaan HUT RI 17 Agustus 2009
Kamis, 30 Juli 2009
DEMO TUNTUT PENAHANAN BUPATI BANYUWANGI NYARIS RICUH
Senin, 27 Juli 2009
PENGAMEN JALANAN SEKARAT DI MUSHOLA
Kamis, 16 Juli 2009
Gunung Raung yang memiliki ketinggian 3.332 meter di atas permukaan laut (dpl) berada di wilayah Kabupaten Banyuwangi dan Jember, alamnya masih alami dengan hutan lindung yang memberikan kenyamanan.
Namun siapa sangka di kaki Gunung Raung, tepatnya di Dusun Sidomulyo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, terdapat pemukiman yang dihuni 5 Kepala Keluarga (KK). Penghuninya yakni, Miski(56) asal Desa Margomulyo Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Suham(32), Sahawi(31), Latif (45) dan Asmat (60) asal Kecamatan Arjasa, Jember.
Ke-5 orang itu rata-rata sudah puluhan tahun menetap dan hidup dari hasil hutan. Mereka tinggal di daerah yang dikenal dengan sebutan Curah Ombo (Jurang lebar). Sebutan itu diambil dari jurang menganga lebar yang terdapat di kawasan hutan yang dikelola Perhutani Banyuwangi Barat.
Tidak mudah untuk sampai ke tempat itu lantaran jalan terjal berbatu dan menanjak sepanjang jalan menjadi satu-satunya fasilitas yang ada. Jika ditempuh dari Desa Jambewangi, kawasan itu memerlukan 3 jam perjalanan.
Rupanya, ke-5 orang itu mengaku hidup di tengah hutan pinus yang sepi dan jauh dari keramaian, hanya sebuah keterpaksaan lantaran perekonomian keluarga yang pas-pasan.
"Di kampung tidak ada yang bisa diharapkan, sawah juga gak punya. Mau bagaimana lagi," keluh Latif sambil mengusap keringat di dahinya di kesempatan kala itu.
Menyadap getah pinus menjadi rutinitas sehari-hari. Meski pendapatan lainnya didapat dari berternak kambing untuk digemukkan. Awalnya hidup di hutan belantara dirasakan kurang nyaman, namun lambat laun para pekerja keras itu mulai terbiasa. Meski kendala acapkali dirasakan.
"Susahnya kalau cari sembako, masa harus turun gunung," kata Miski, penyadap pinus lainnya.
Selain itu, kendala lainnya,lanjut Miski, jika senja datang di pemukiman mereka bisa dipastikan akan gelap gulita. Hanya cahaya lampu templek yang menjadi penerangnya.
Belum lagi, yang memiliki anak usia sekolah seperti Suham, rekan Miski. Pagi-pagi sekali Suham harus turun gunung mengantar anaknya berangkat sekolah dan di siang harinya harus menjemputnya kembali.
"Pukul 05.00 WIB subuh saya sudah turun gunung, meski tinggal di gunung anak saya harus sekolah," tegas laki-laki berpawakan sedang ini.
Meski hidup bertahun-tahun di hutan, membuat mereka tetap bertahan. Penghasilan ekonomi keluarga menjadi lebih baik dibandingkan saat hidup di kampungnya. "Sebulan penghasilan kami rata-rata sekitar Rp 900 ribu," ucap Suham bangga.
Baca Selengkapnya
Demi Kebutuhan Ekonomi, 5 Keluarga Rela Hidup di Hutan Pinus
Sekolah bayar sayur? Mungkin hal itu tak pernah terbayangkan dibenak Anda. Namun hal itu nyata adanya dan diterapkan di lembaga pendidikan SD dab SMP ALAM, Dusun Jenengsari Desa Genteng Kulon Kecamatan Genteng, Banyuwangi.
Meski pagi itu mendung menggelayut dilangit Banyuwangi, namun tak mengurangi semangat Ifan Muzadi untuk mengikuti hari pertama disekolah barunya. Ifan salah seorang dari 30 siswa siswa baru di SMP ALAM. Remaja itu lahir 16 tahun yang lalu ditengah keluarga tak mampu di sebuah Desa di Nusa Tenggara Timur. Masa depannya nyaris pupus lantaran kedua orang tuanya 'pasrah' dengan tingginya biaya pendidikan yang layak di Negeri ini.
Namun, secercah harapan untuk masa depannya itu masih ada. Di SMP yang kerap disebut sekolah sayur ini, biaya tak menjadi penghalang untuk mengenyam pendidikan yang layak. Yayasan Banyuwangi Islamic School (BIS), pengelola sekolah berkonsep lingkungan itu tak menetapkan biaya seperti SPP atau uang gedung untuk para siswanya.
"Tak ada biaya apapun, bayarnya apa yang dipunya wali murid. Ada sayur.. ya sayur, ada tomat.. ya tomat tidak bayar pun tak mengapa," jelas Muhammad Farid (35), Kepala Sekolah SD dan SMP ALAM, saat menemaniku berkeliling komplek sekolahnya, kala siang itu.
Lantas dipakai untuk apa sayur mayur dari wali murid itu oleh pihak sekolah? Sayur mayur (atau lainnya) itupun dimasak dan disajikan ke para murid yang selama menjalani pendidikan tinggal di asrama. Sekolah ini memang mewajibkan siswanya untuk tinggal di asrama (Ada dua asrama, putra dan putri). Di hari Sabtu dan Minggu, siswa diberikan waktu untuk pulang kerumah masing-masing. Praktis para siswa masuk kelas hanya lima hari, Senin sampai Jumat.
"Mereka pulang ke rumah pun membawa misi, yakni, menularkan ilmunya ke SD asal mereka. Istilahnya mereka diajarkan untuk dakwah mulai dini," jelas Farid lagi.
Nuansa perpaduan antara pondok pesantren dan sekolah formal sangat terasa disekolah ini. Para pendiri dan pengurus sekolah ALAM, rata-rata menyelesaikan pendidikan sarjananya di Pergurutan Tinggi Islam. Ruang sekolah di desain layaknya gubuk sawah. Tanpa sekat dan kursi. Saat belajar para murid lesehan dilantai bambu. Suasana santai penuh semangat kebersamaan, itulah yang tercipta.
Menurut Farid, sekolah yang dikelolanya menerapkan sistem pembelajaran aktif. Para siswa dibiasakan untuk aktif dan mandiri dalam mempelajari dan mengkaji materi. Proses pembelajaran para murid akan didampingi seorang asisten atau tutor. Guru hanya berfungsi sebagai evaluator.
Alhasil, dua angkatan yang sudah lulus dari sekolah ALAM terbukti memiliki kemampuan lebih. Minimal kemampuan untuk berbahasa Inggris dan Bahasa Arab, menghitung cepat ala sempoa, serta melek Teknologi. Sepertinya tak banyak sekolah yang 'berani' menerapkan sistem serupa, karena sistem tersebut banyak tantangan dalam penerapannya.
"Sistem ini lebih menanamkan siswa untuk termotifasi belajar sendiri secara aktif dengan penuh kesadaran, tanpa ada paksaan. Jadi ada guru atau tidak ada guru, mereka akan tetap belajar. Tak mudah untuk melakukannya, tapi kami sudah buktikan itu," ungkap Farid panjang lebar.
Tentu saja, keberadaan sekolah sayur itu menjadi pilihan bagi masyarakat. Baik dari kalangan bawah atau kalangan berada, ditengah kebutuhan akan pendidikan berkualitas dan murah. Apalagi, nilai-nilai Agama (Islam) menjadi penyimbang. Selain itu sekolah ALAM tersebut mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan dengan memberikan ijazah resmi bagi siswa yang lulus.
Dari grafik jumlah siswa yang masuk ke sekolah ini, ditiap tahunnya menunjukkan peningkatan. Grafik itu sekaligus menunjukan jumlah anak bangsa, yang masa depannya terselamatkan dengan hanya membayar Sayur mayur. Termasuk remaja asal Nusa Tenggara Timur bernama Irfan Muzadi.
Baca Selengkapnya
SEKOLAH PUN BAYAR SAYUR MAYUR...!!
Rabu, 15 Juli 2009
HEBOH, MAYAT TERBAKAR DITEMUKAN DIKEBUN TEBU
KETUA DEWAN PERTIMBANGAN DEMOKRAT BANYUWANGI DITAHAN KEJAKSAAN
PENYALURAN RASKIN DI DESA SILIR AGUNG DISOAL
Selasa, 14 Juli 2009
27 PNS DI BANYUWANGI TERJARING RAZIA SATPOL PP
GADIS MISTERIUS DITEMUKAN TERLANTAR DIKAWASAN PANTAI LAMPON
Kamis, 02 Juli 2009
Cerita Kami Yang Pertama
Kamis, 30 Juli 2009
DEMO TUNTUT PENAHANAN BUPATI BANYUWANGI NYARIS RICUH
Belasan warga Banyuwangi, yang tergabung dalam komunitas rakyat peduli keadilan Banyuwangi, melurug Kantor Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Kamis (30/7/2009) saing. Kedatangan mereka terkait, ketidak jelasan, proses hukum Bupati Ratna Ani Lestari yang resmi ditetapkan menjadi tersangka kasus korupsi lapangan terbang di Desa Blimbingsari Kecamatan Rogojampi.
Kedatangan massa tersebut sempat dihadang oleh aparat kepolisian dari Polres Banyuwangi yang melakukan penjagaan dipintu masuk kantor Kejari. Situasi semakin tegang saat rombongan warga yang ingin masuk tak diijinkan. Akibatnya, adu mu
lut dan saling dorong antara massa dan petugas tak terelakan. Warga mencaci maki petugas dan meneriakan yel-yel.
"Loh.. ini milik rakyat, kami mau masuk. Kami hanya ingin tahu sampai sejauh mana proses hukum Bupati," teriak Husaini, kordinator aksi saat petugas berupaya menghalangi dipintu masuk Kejari.
Melihat warga semakin nekad, akhirnya Polisi berupaya untuk bernegoisasi. Alhasil lima perwakilan warga diperbolehkan masuk menemui Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi. Namun warga hanya ditemui Kepala Seksi Intelijen, Ikhwan Efendi. Pasalnya, Kajari sedang tidak dinas keluar kota.
"Silahkan perwakilan saja yang masuk, lima orang," kata salah seorang Petugas.
Didalam pertemuan, warga hanya menanyakan seberapa jauh proses hukum Bupati Ratna Ani Lestari. Pasalnya, sejak ditetapkan menjadi salah satu tersangka kasus korupsi lapangan terbang Banyuwangi, bulan Agustus 2008 lalu. Hingga kini yang bersangkutan belum juga ditahan. Hal itu memunculkan berbagai dugaan termasuk tuduhan sikap tebang pilih pihak Kejari.
"Surat sudah kami layangkan ke Kejaksaan Agung, tapi hingga hari ini belum ada jawaban," jelas Kasi Intelijen, Ikhwan Efendi, sambil menunjukan copy lembaran surat yang dimaksud.
Setelah mendapat jawaban tersebut, akhirnya warga membubarkan diri sekitar pukul 12.00 WIB. Namun sebelum meninggalkan tempat, mereka mengancam akan melakukan pendudukan kantor Kejari Banyuwangi, jika surat yang dilayangkan itu tidak benar adanya.
"Kami akan lakukan pengecekan langsung ke Kejagung, jika tidak benar kami akan terpaksa kami akan melakukan gerakan tiap hari di sini," tegas Husaini.
Baca Selengkapnya
Kedatangan massa tersebut sempat dihadang oleh aparat kepolisian dari Polres Banyuwangi yang melakukan penjagaan dipintu masuk kantor Kejari. Situasi semakin tegang saat rombongan warga yang ingin masuk tak diijinkan. Akibatnya, adu mu
lut dan saling dorong antara massa dan petugas tak terelakan. Warga mencaci maki petugas dan meneriakan yel-yel.
"Loh.. ini milik rakyat, kami mau masuk. Kami hanya ingin tahu sampai sejauh mana proses hukum Bupati," teriak Husaini, kordinator aksi saat petugas berupaya menghalangi dipintu masuk Kejari.
Melihat warga semakin nekad, akhirnya Polisi berupaya untuk bernegoisasi. Alhasil lima perwakilan warga diperbolehkan masuk menemui Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi. Namun warga hanya ditemui Kepala Seksi Intelijen, Ikhwan Efendi. Pasalnya, Kajari sedang tidak dinas keluar kota.
"Silahkan perwakilan saja yang masuk, lima orang," kata salah seorang Petugas.
Didalam pertemuan, warga hanya menanyakan seberapa jauh proses hukum Bupati Ratna Ani Lestari. Pasalnya, sejak ditetapkan menjadi salah satu tersangka kasus korupsi lapangan terbang Banyuwangi, bulan Agustus 2008 lalu. Hingga kini yang bersangkutan belum juga ditahan. Hal itu memunculkan berbagai dugaan termasuk tuduhan sikap tebang pilih pihak Kejari.
"Surat sudah kami layangkan ke Kejaksaan Agung, tapi hingga hari ini belum ada jawaban," jelas Kasi Intelijen, Ikhwan Efendi, sambil menunjukan copy lembaran surat yang dimaksud.
Setelah mendapat jawaban tersebut, akhirnya warga membubarkan diri sekitar pukul 12.00 WIB. Namun sebelum meninggalkan tempat, mereka mengancam akan melakukan pendudukan kantor Kejari Banyuwangi, jika surat yang dilayangkan itu tidak benar adanya.
"Kami akan lakukan pengecekan langsung ke Kejagung, jika tidak benar kami akan terpaksa kami akan melakukan gerakan tiap hari di sini," tegas Husaini.
CJ : Hasyim Wahid
Senin, 27 Juli 2009
PENGAMEN JALANAN SEKARAT DI MUSHOLA
Seorang pengamen jalanan ditemukan sekarat di dalam mushola terminal Desa Jajag Kecamatan Gambiran, Banyuwangi. Meski berupaya diselamatkan ke rumah sakit terdekat, namun nyawa korban tak tertolong lagi, Minggu (26/7/2009) sore kemarin.
Diduga, korban overdosis obat yang dicampurnya dengan minuman beralkohol. Hal itu diperkuat dengan keterangan beberapa rekan korban yang dimintai keterangan oleh Polisi. Selain itu, hasil pemeriksaan medis juga menyebutkan hal yang sama. Yakni penyalahgunaan obat dalam dosis berlebihan.
"Pemeriksaan dokter mengarah pada itu, bisa jadi pil distro yang diminumnya," jelas Kapolsek Gambiran, AKP Ma'ruf, saat ditemui wartawan dikantornya, Senin (27/6/2009).
Mayat korban kini dititipkan di kamar mayat RSUD Genteng. Hal itu dilakukan setelah Polisi kesulitan untuk melacak identitasnya. Ditubuh korban tak satupun ditemukan kartu identitas. Polisi hanya mengetahui nama korban, yaitu, Yudi alias Buang. Nama tersebut didapatkan Polisi dari rekan-rekan korban sesama pengamen.
Dari informasi yang dihimpun menyebutkan, semula korban disangka tidur. Pasalnya, korban terlihat tidur di musola sejak, Sabtu (25/7/2009) malam. Korban diketahui sekarat, setelah salah seorang warga yang hendak solat duhur di musola itu, merasa curiga dengan kondisi korban. Terlebih dari rongga mulut korban dipenuhi buih berwarna putih.
"Saya lihat ada buih dimulutnya, nafasnya juga tersengal-sengal," jelas Hatta, saksi mata.
Setelah beberapa saat menjalani perawatan dirumah sakit, akhirnya korban menghembuskan nafas terakhirnya. Polisi masih berupaya mencari kejelasan identitas korban. Rencananya mayat pengamen itu akan dimakamkan, jika dalam waktu tiga hari pencarian identitas korban belum juga ditemukan.
CJ : Irul Hamdani
Baca Selengkapnya
Diduga, korban overdosis obat yang dicampurnya dengan minuman beralkohol. Hal itu diperkuat dengan keterangan beberapa rekan korban yang dimintai keterangan oleh Polisi. Selain itu, hasil pemeriksaan medis juga menyebutkan hal yang sama. Yakni penyalahgunaan obat dalam dosis berlebihan.
"Pemeriksaan dokter mengarah pada itu, bisa jadi pil distro yang diminumnya," jelas Kapolsek Gambiran, AKP Ma'ruf, saat ditemui wartawan dikantornya, Senin (27/6/2009).
Mayat korban kini dititipkan di kamar mayat RSUD Genteng. Hal itu dilakukan setelah Polisi kesulitan untuk melacak identitasnya. Ditubuh korban tak satupun ditemukan kartu identitas. Polisi hanya mengetahui nama korban, yaitu, Yudi alias Buang. Nama tersebut didapatkan Polisi dari rekan-rekan korban sesama pengamen.
Dari informasi yang dihimpun menyebutkan, semula korban disangka tidur. Pasalnya, korban terlihat tidur di musola sejak, Sabtu (25/7/2009) malam. Korban diketahui sekarat, setelah salah seorang warga yang hendak solat duhur di musola itu, merasa curiga dengan kondisi korban. Terlebih dari rongga mulut korban dipenuhi buih berwarna putih.
"Saya lihat ada buih dimulutnya, nafasnya juga tersengal-sengal," jelas Hatta, saksi mata.
Setelah beberapa saat menjalani perawatan dirumah sakit, akhirnya korban menghembuskan nafas terakhirnya. Polisi masih berupaya mencari kejelasan identitas korban. Rencananya mayat pengamen itu akan dimakamkan, jika dalam waktu tiga hari pencarian identitas korban belum juga ditemukan.
CJ : Irul Hamdani
Kamis, 16 Juli 2009
Demi Kebutuhan Ekonomi, 5 Keluarga Rela Hidup di Hutan Pinus
Gunung Raung yang memiliki ketinggian 3.332 meter di atas permukaan laut (dpl) berada di wilayah Kabupaten Banyuwangi dan Jember, alamnya masih alami dengan hutan lindung yang memberikan kenyamanan.Namun siapa sangka di kaki Gunung Raung, tepatnya di Dusun Sidomulyo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, terdapat pemukiman yang dihuni 5 Kepala Keluarga (KK). Penghuninya yakni, Miski(56) asal Desa Margomulyo Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Suham(32), Sahawi(31), Latif (45) dan Asmat (60) asal Kecamatan Arjasa, Jember.
Ke-5 orang itu rata-rata sudah puluhan tahun menetap dan hidup dari hasil hutan. Mereka tinggal di daerah yang dikenal dengan sebutan Curah Ombo (Jurang lebar). Sebutan itu diambil dari jurang menganga lebar yang terdapat di kawasan hutan yang dikelola Perhutani Banyuwangi Barat.
Tidak mudah untuk sampai ke tempat itu lantaran jalan terjal berbatu dan menanjak sepanjang jalan menjadi satu-satunya fasilitas yang ada. Jika ditempuh dari Desa Jambewangi, kawasan itu memerlukan 3 jam perjalanan.
Rupanya, ke-5 orang itu mengaku hidup di tengah hutan pinus yang sepi dan jauh dari keramaian, hanya sebuah keterpaksaan lantaran perekonomian keluarga yang pas-pasan.
"Di kampung tidak ada yang bisa diharapkan, sawah juga gak punya. Mau bagaimana lagi," keluh Latif sambil mengusap keringat di dahinya di kesempatan kala itu.
Menyadap getah pinus menjadi rutinitas sehari-hari. Meski pendapatan lainnya didapat dari berternak kambing untuk digemukkan. Awalnya hidup di hutan belantara dirasakan kurang nyaman, namun lambat laun para pekerja keras itu mulai terbiasa. Meski kendala acapkali dirasakan.
"Susahnya kalau cari sembako, masa harus turun gunung," kata Miski, penyadap pinus lainnya.
Selain itu, kendala lainnya,lanjut Miski, jika senja datang di pemukiman mereka bisa dipastikan akan gelap gulita. Hanya cahaya lampu templek yang menjadi penerangnya.
Belum lagi, yang memiliki anak usia sekolah seperti Suham, rekan Miski. Pagi-pagi sekali Suham harus turun gunung mengantar anaknya berangkat sekolah dan di siang harinya harus menjemputnya kembali.
"Pukul 05.00 WIB subuh saya sudah turun gunung, meski tinggal di gunung anak saya harus sekolah," tegas laki-laki berpawakan sedang ini.
Meski hidup bertahun-tahun di hutan, membuat mereka tetap bertahan. Penghasilan ekonomi keluarga menjadi lebih baik dibandingkan saat hidup di kampungnya. "Sebulan penghasilan kami rata-rata sekitar Rp 900 ribu," ucap Suham bangga.
SEKOLAH PUN BAYAR SAYUR MAYUR...!!
Sekolah bayar sayur? Mungkin hal itu tak pernah terbayangkan dibenak Anda. Namun hal itu nyata adanya dan diterapkan di lembaga pendidikan SD dab SMP ALAM, Dusun Jenengsari Desa Genteng Kulon Kecamatan Genteng, Banyuwangi.Meski pagi itu mendung menggelayut dilangit Banyuwangi, namun tak mengurangi semangat Ifan Muzadi untuk mengikuti hari pertama disekolah barunya. Ifan salah seorang dari 30 siswa siswa baru di SMP ALAM. Remaja itu lahir 16 tahun yang lalu ditengah keluarga tak mampu di sebuah Desa di Nusa Tenggara Timur. Masa depannya nyaris pupus lantaran kedua orang tuanya 'pasrah' dengan tingginya biaya pendidikan yang layak di Negeri ini.
Namun, secercah harapan untuk masa depannya itu masih ada. Di SMP yang kerap disebut sekolah sayur ini, biaya tak menjadi penghalang untuk mengenyam pendidikan yang layak. Yayasan Banyuwangi Islamic School (BIS), pengelola sekolah berkonsep lingkungan itu tak menetapkan biaya seperti SPP atau uang gedung untuk para siswanya.
"Tak ada biaya apapun, bayarnya apa yang dipunya wali murid. Ada sayur.. ya sayur, ada tomat.. ya tomat tidak bayar pun tak mengapa," jelas Muhammad Farid (35), Kepala Sekolah SD dan SMP ALAM, saat menemaniku berkeliling komplek sekolahnya, kala siang itu.
Lantas dipakai untuk apa sayur mayur dari wali murid itu oleh pihak sekolah? Sayur mayur (atau lainnya) itupun dimasak dan disajikan ke para murid yang selama menjalani pendidikan tinggal di asrama. Sekolah ini memang mewajibkan siswanya untuk tinggal di asrama (Ada dua asrama, putra dan putri). Di hari Sabtu dan Minggu, siswa diberikan waktu untuk pulang kerumah masing-masing. Praktis para siswa masuk kelas hanya lima hari, Senin sampai Jumat.
"Mereka pulang ke rumah pun membawa misi, yakni, menularkan ilmunya ke SD asal mereka. Istilahnya mereka diajarkan untuk dakwah mulai dini," jelas Farid lagi.
Nuansa perpaduan antara pondok pesantren dan sekolah formal sangat terasa disekolah ini. Para pendiri dan pengurus sekolah ALAM, rata-rata menyelesaikan pendidikan sarjananya di Pergurutan Tinggi Islam. Ruang sekolah di desain layaknya gubuk sawah. Tanpa sekat dan kursi. Saat belajar para murid lesehan dilantai bambu. Suasana santai penuh semangat kebersamaan, itulah yang tercipta.
Menurut Farid, sekolah yang dikelolanya menerapkan sistem pembelajaran aktif. Para siswa dibiasakan untuk aktif dan mandiri dalam mempelajari dan mengkaji materi. Proses pembelajaran para murid akan didampingi seorang asisten atau tutor. Guru hanya berfungsi sebagai evaluator.
Alhasil, dua angkatan yang sudah lulus dari sekolah ALAM terbukti memiliki kemampuan lebih. Minimal kemampuan untuk berbahasa Inggris dan Bahasa Arab, menghitung cepat ala sempoa, serta melek Teknologi. Sepertinya tak banyak sekolah yang 'berani' menerapkan sistem serupa, karena sistem tersebut banyak tantangan dalam penerapannya.
"Sistem ini lebih menanamkan siswa untuk termotifasi belajar sendiri secara aktif dengan penuh kesadaran, tanpa ada paksaan. Jadi ada guru atau tidak ada guru, mereka akan tetap belajar. Tak mudah untuk melakukannya, tapi kami sudah buktikan itu," ungkap Farid panjang lebar.
Tentu saja, keberadaan sekolah sayur itu menjadi pilihan bagi masyarakat. Baik dari kalangan bawah atau kalangan berada, ditengah kebutuhan akan pendidikan berkualitas dan murah. Apalagi, nilai-nilai Agama (Islam) menjadi penyimbang. Selain itu sekolah ALAM tersebut mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan dengan memberikan ijazah resmi bagi siswa yang lulus.
Dari grafik jumlah siswa yang masuk ke sekolah ini, ditiap tahunnya menunjukkan peningkatan. Grafik itu sekaligus menunjukan jumlah anak bangsa, yang masa depannya terselamatkan dengan hanya membayar Sayur mayur. Termasuk remaja asal Nusa Tenggara Timur bernama Irfan Muzadi.
Rabu, 15 Juli 2009
HEBOH, MAYAT TERBAKAR DITEMUKAN DIKEBUN TEBU
Seorang pemuda di Banyuwangi, Jawa Timur, ditemukan tewas mengenaskan di sebuah kebun tebu. Selain kulit di tubuhnya nyaris hilang dan tinggal tulang belulang, sejumlah tubuh korban juga terdapat bekas luka bakar. diduga korban dibunuh, kemudian dibakar untuk menghilangkan jejak. penemuan mayat ini sontak menarik ratusan warga yang tinggal di sekitar lokasi.
Rabu petang, warga desa Pakistaji, kecamatan Kabat, Banyuwangi gempar. Sesosok mayat pemuda ditemukan warga setempat berada di dalam areal kebun tebu. saat ditemukan kondisi pemuda ini sangat mengenaskan, selain mengeluarkan bau tidak sedap, seluruh kulit di sekujur mayat korban sudah terkelupas sehingga tinggal tulang belulangnya saja. Tidak hanya itu, disejumlah tubuh korban ditemukan luka bakar.
Polisi yang datang ke lokasi langsung melakukan proses identifikasi. Meski pakaian yang dikenakan korban seperti jaket dan celana masih melekat, namun kondisi korban yang sudah tidak utuh lagi membuat polisi sempat kesulitan. diduga, korban tewas setelah dibunuh kemudian dibakar, apalagi polisi menemukan bekas botol bensin disekitar lokasi penemuan mayat.
Di saat polisi kebingungan, seorang warga yang sedang melihat penemuan mayat ini mengetahui identitas korban. Tak lama kemudian, orang tua korban, Rahman, datang ke lokasi. Warga Pancoran, Rogojampi, Banyuwangi inipun langsung shok begitu mengetahui mayat tersebut ternyata adalah anaknya sendiri, Subandi, 27 tahun, yang sudah menghilang sejak sepekan terakhir setelah dijemput salah seorang teman korban.
Korban sendiri ditemukan warga yang curiga atas bau menyengat yang muncul dari dalam kebun tebu, sejak sepekan terakhir. Namun karena sebelumnya warga menduga bau menyengat tersebut berasal dari anjing yang mati, warga tidak peduli. Namun karena bau tidak kunjung hilang akhirnya warga melihat ke lokasi dan menemukan mayat korban.
Belum diketahui persis penyebab kematian korban, namun demikian kuat dugaan, korban tewas akibat dibunuh. Apalagi, dari tempat kejadian polisi menemukan botol bensin, tali tambang serta sandal jepit. Guna penyelidikan lebih lanjut barang bukti tersebut di bawa ke kantor polisi. sedang jenazah korban langsung dibawa ke rumah sakit Blambangan Banyuwangi guna dilakukan otopsi. Polisi sendiri kini terus melakukan penyelidikan terkait kematian korban, termasuk mencari teman korban yang menjemput korban sebelum ditemukan tewas dikebun tebu. Dalam dua bulan terakhir, kasus pembunuhan dengan cara dibunuh kemudian dibakar dan dibuang ke kebun tebu di Banyuwangi sudah dua kali terjadi. kasus pertama yang terjadi awal juni lalu dikawasan kebun tebu genteng banyuwangi, polisi sudah berhasil menangkap para pelaku, kala itu motif para pelaku membantai korban hanya ingin memilik motor korban untuk dijual.
Baca Selengkapnya
Rabu petang, warga desa Pakistaji, kecamatan Kabat, Banyuwangi gempar. Sesosok mayat pemuda ditemukan warga setempat berada di dalam areal kebun tebu. saat ditemukan kondisi pemuda ini sangat mengenaskan, selain mengeluarkan bau tidak sedap, seluruh kulit di sekujur mayat korban sudah terkelupas sehingga tinggal tulang belulangnya saja. Tidak hanya itu, disejumlah tubuh korban ditemukan luka bakar.
Polisi yang datang ke lokasi langsung melakukan proses identifikasi. Meski pakaian yang dikenakan korban seperti jaket dan celana masih melekat, namun kondisi korban yang sudah tidak utuh lagi membuat polisi sempat kesulitan. diduga, korban tewas setelah dibunuh kemudian dibakar, apalagi polisi menemukan bekas botol bensin disekitar lokasi penemuan mayat.
Di saat polisi kebingungan, seorang warga yang sedang melihat penemuan mayat ini mengetahui identitas korban. Tak lama kemudian, orang tua korban, Rahman, datang ke lokasi. Warga Pancoran, Rogojampi, Banyuwangi inipun langsung shok begitu mengetahui mayat tersebut ternyata adalah anaknya sendiri, Subandi, 27 tahun, yang sudah menghilang sejak sepekan terakhir setelah dijemput salah seorang teman korban.
Korban sendiri ditemukan warga yang curiga atas bau menyengat yang muncul dari dalam kebun tebu, sejak sepekan terakhir. Namun karena sebelumnya warga menduga bau menyengat tersebut berasal dari anjing yang mati, warga tidak peduli. Namun karena bau tidak kunjung hilang akhirnya warga melihat ke lokasi dan menemukan mayat korban.
Belum diketahui persis penyebab kematian korban, namun demikian kuat dugaan, korban tewas akibat dibunuh. Apalagi, dari tempat kejadian polisi menemukan botol bensin, tali tambang serta sandal jepit. Guna penyelidikan lebih lanjut barang bukti tersebut di bawa ke kantor polisi. sedang jenazah korban langsung dibawa ke rumah sakit Blambangan Banyuwangi guna dilakukan otopsi. Polisi sendiri kini terus melakukan penyelidikan terkait kematian korban, termasuk mencari teman korban yang menjemput korban sebelum ditemukan tewas dikebun tebu. Dalam dua bulan terakhir, kasus pembunuhan dengan cara dibunuh kemudian dibakar dan dibuang ke kebun tebu di Banyuwangi sudah dua kali terjadi. kasus pertama yang terjadi awal juni lalu dikawasan kebun tebu genteng banyuwangi, polisi sudah berhasil menangkap para pelaku, kala itu motif para pelaku membantai korban hanya ingin memilik motor korban untuk dijual.
KETUA DEWAN PERTIMBANGAN DEMOKRAT BANYUWANGI DITAHAN KEJAKSAAN
Ketua Dewan Pertimbangan Partai Demokrat Banyuwangi, Syafik Udin, ditahan Kejaksaan Negeri Banyuwangi. Syafik ditahan setelah sebelumnya menjadi tersangka atas kasus dugaan penggelapan senjata api laras panjang merk winchester model SLR69 cal 5.6/2.2, Rabu (14/7/2009).
Senpi winchester yang digelapkan tersangka adalah milik Dedy Harsono, seorang pensiunan Polisi. Antara tersangka dan Dedy sama-sama menjadi anggota Perbakin. Tersangka dilaporkan Dedy pertengahan Januari 2009 lalu atas dugaan penggelapan senpi miliknya tersebut.
Penahanan dilakukan setelah serah terima berkas acara perkara (BAP) dari Polres Banyuwangi ke kejaksaan Negeri, usai dilakukan. Sekitar pukul 11.30 WIB, tersangka tanpa didampingi kuasa hukum, langsung dititipkan ke Lembaga Pemasyarakatan Banyuwangi. Syafik dijerat dengan Pasal 372 KUHP tentang penggelapan, dengan ancaman hukuman penjara empat tahun.
Selain itu, Administratur perkebunan Lidjen itu juga sedang menghadapi proses hukum atas kasus kepemilikan senjata api ilegal merek Remington model 22/406 mm. Namun berkas acara kasus kepemilikan senpi ilegal itu belum dilimpahkan.
"BAP kasus keduanya belum dilimpahkan," jelas I Ketut Suadhiarta, Pelaksana Harian Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi, pada wartawan.
Kasus kepemilikan senpi ilegal tersebut, terbongkar hasil dari pengembangan penyelidikan kasus penggelapan senpi. Polisi menemukan senpi yang diduga ilegal tersebut dikubur diarea perkebunan Lidjen.
Syafik Udin saat ditemui wartawan sesat sebelum ditahan mengatakan, jika dirinya akan tetap menghormati proses hukum yang dilakukan Kejaksaan. Meski begitu dirinya bersikukuh tidak bersalah dalam kasus itu. Rencananya pihaknya akan mengajukan penangguhan penahanan.
"Saya tidak bersalah, saya punya izin atas senpi itu," jelas Syafik, saat ditemui wartawan sesaat sebelum ditahan.
Baca Selengkapnya
Senpi winchester yang digelapkan tersangka adalah milik Dedy Harsono, seorang pensiunan Polisi. Antara tersangka dan Dedy sama-sama menjadi anggota Perbakin. Tersangka dilaporkan Dedy pertengahan Januari 2009 lalu atas dugaan penggelapan senpi miliknya tersebut.
Penahanan dilakukan setelah serah terima berkas acara perkara (BAP) dari Polres Banyuwangi ke kejaksaan Negeri, usai dilakukan. Sekitar pukul 11.30 WIB, tersangka tanpa didampingi kuasa hukum, langsung dititipkan ke Lembaga Pemasyarakatan Banyuwangi. Syafik dijerat dengan Pasal 372 KUHP tentang penggelapan, dengan ancaman hukuman penjara empat tahun.
Selain itu, Administratur perkebunan Lidjen itu juga sedang menghadapi proses hukum atas kasus kepemilikan senjata api ilegal merek Remington model 22/406 mm. Namun berkas acara kasus kepemilikan senpi ilegal itu belum dilimpahkan.
"BAP kasus keduanya belum dilimpahkan," jelas I Ketut Suadhiarta, Pelaksana Harian Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi, pada wartawan.
Kasus kepemilikan senpi ilegal tersebut, terbongkar hasil dari pengembangan penyelidikan kasus penggelapan senpi. Polisi menemukan senpi yang diduga ilegal tersebut dikubur diarea perkebunan Lidjen.
Syafik Udin saat ditemui wartawan sesat sebelum ditahan mengatakan, jika dirinya akan tetap menghormati proses hukum yang dilakukan Kejaksaan. Meski begitu dirinya bersikukuh tidak bersalah dalam kasus itu. Rencananya pihaknya akan mengajukan penangguhan penahanan.
"Saya tidak bersalah, saya punya izin atas senpi itu," jelas Syafik, saat ditemui wartawan sesaat sebelum ditahan.
PENYALURAN RASKIN DI DESA SILIR AGUNG DISOAL
Silir Agung- Warga Desa Silir Agung Kecamatan Silir Agung, mengeluhkan pembagian beras bagi warga miskin atau Raskin yang disalurkan pemerintah melalui pemerintah desa setempat. Bahkan, warga membawa permasalahan tersebut ke pihak kepolisian.
Senin pagi, sekitar 10 warga Dusun Krajan Desa Silir Agung melapor ke Polsek setempat terkait adanya dugaan penyimpangan penyaluran raskin yang mereka terima selama ini. Mereka yakni, Sutris, Marjuki, Sarijo, Jumawi, Budi, Giono, Srikati, Agus serta Timbul.
Mereka menduga jika pembagian raskin oleh Pemerintah Desanya terdapat beberapa penyimpangan. Mulai dari jatah raskin yang dipangkas, hingga harga raskin yang lebih mahal dari ketentuan Pemerintah.
Menurut Sutris, salah seorang warga, jatah raskin yang seharusnya diterima gakin satu sak atau 15 Kg per orangnya, hanya diterima sekitar 5 sampai 7,5 KG saja. Sisanya entah kemana. Selain itu, harga per kilo raskin yang seharusnya Rp 24 ribu/sak menjadi Rp. 27 ribu/sak-nya.
Yang lebih membuat kesal warga lagi, terkait dugaan pemalsuan tanda tangan warga oleh oknum Kepala Desa, seperti yang tercantum di dalam lembar tanda terima raskin.
"Ada beberapa kejanggalan dalam pembagian raskin, diantaranya raskin yang saya terima untuk bulan Juni kemarin hanya separuh saja. Selain itu harganya menjadi 27 ribu. Dan diduga tanda tangan serta cap jempol di lembar tanda terima dipalsu," jelas Sutris, saat ditemui dikawasan Desa Silir Agung, tanpa menyebutkan siapa yang dituduhnya tersebut, Rabu (13/7/2009) siang.
Untuk itu, dengan berbekal kejanggalan-kejanggalan yang dimaksud. Sutris melaporkan hal itu ke Polsek Silir Agung, guna dilakukan penyelidikan.
Sementara itu, Kepala Desa Silir Agung, Suryanto, membantah jika Pemerintah Desa atau dirinya menyelewengkan beras raskin seperti yang dituduhkan warganya. Menurutnya, yang terjadi hanyalah kesalahpahaman belaka. Sebab Desa Silir Agung hanya menerima 554 sak raskin. Sementara, warga miskin yang terdaftar sekitar 800-an orang.
Untuk itulah, dengan pertimbangan kemanusiaan, pihak Pemerintah Desa mengeluarkan kebijakan pemerataan raskin. Sebab itu, jatah beras raskin yang diterima warga tidak sesuai dengan semestinya.
"Kebijakan itu sudah saya bicarakan kok sama warga, jauh hari sebelumnya dan mereka setuju. Dan saya rasa kebijakan serupa juga ada di Desa-Desa lainnya," kilah Suryanto, saat ditemui detiksurabaya.com dirumahnya.
Meski begitu, Kepala Desa tidak menampik jika dirinya 'memalsu' tanda tangan warga. Kades beralasan jika hal itu dilakukan tidak lebih hanya untuk efisiensi waktu disaat penyaluran raskin berlangsung. "Kasihan jika warga harus berlama-lama di kantor desa," kilahnya lagi.
Sementara, Kades juga tidak mengelak jika harga raskin yang disalurkannya sebesar Rp 27 ribu/saknya. Alasannya, lagi-lagi demi kemanusiaan. Sebab, uang selisih dari harga yang ditetapkan Pemerintah itu, untuk membantu warga miskin lainnya yang memang tidak mampu membeli beras raskin. Namun, itu inisiatif para Kepala Dusun dimasing-masing lingkungannya.
"uang itu untuk mengganti beras raskin yang disalurkan ke warga yang memang benar-benar tidak mampu. Seperti janda tua, orang jompo. Dan yang melakukannya para Kadus," jelas Suryanto, seakan mencari kambing hitam.
Apapun itu, lanjut Suryanto, jika nanti benar ada indikasi pelanggaran raskin seperti yang dituduhkan warga. Maka dirinya siap untuk bertanggung jawab. Namun, Suryanto menyakinkan jika hal itu tetaplah kabar yang tidak benar.
Baca Selengkapnya
Senin pagi, sekitar 10 warga Dusun Krajan Desa Silir Agung melapor ke Polsek setempat terkait adanya dugaan penyimpangan penyaluran raskin yang mereka terima selama ini. Mereka yakni, Sutris, Marjuki, Sarijo, Jumawi, Budi, Giono, Srikati, Agus serta Timbul.
Mereka menduga jika pembagian raskin oleh Pemerintah Desanya terdapat beberapa penyimpangan. Mulai dari jatah raskin yang dipangkas, hingga harga raskin yang lebih mahal dari ketentuan Pemerintah.
Menurut Sutris, salah seorang warga, jatah raskin yang seharusnya diterima gakin satu sak atau 15 Kg per orangnya, hanya diterima sekitar 5 sampai 7,5 KG saja. Sisanya entah kemana. Selain itu, harga per kilo raskin yang seharusnya Rp 24 ribu/sak menjadi Rp. 27 ribu/sak-nya.
Yang lebih membuat kesal warga lagi, terkait dugaan pemalsuan tanda tangan warga oleh oknum Kepala Desa, seperti yang tercantum di dalam lembar tanda terima raskin.
"Ada beberapa kejanggalan dalam pembagian raskin, diantaranya raskin yang saya terima untuk bulan Juni kemarin hanya separuh saja. Selain itu harganya menjadi 27 ribu. Dan diduga tanda tangan serta cap jempol di lembar tanda terima dipalsu," jelas Sutris, saat ditemui dikawasan Desa Silir Agung, tanpa menyebutkan siapa yang dituduhnya tersebut, Rabu (13/7/2009) siang.
Untuk itu, dengan berbekal kejanggalan-kejanggalan yang dimaksud. Sutris melaporkan hal itu ke Polsek Silir Agung, guna dilakukan penyelidikan.
Sementara itu, Kepala Desa Silir Agung, Suryanto, membantah jika Pemerintah Desa atau dirinya menyelewengkan beras raskin seperti yang dituduhkan warganya. Menurutnya, yang terjadi hanyalah kesalahpahaman belaka. Sebab Desa Silir Agung hanya menerima 554 sak raskin. Sementara, warga miskin yang terdaftar sekitar 800-an orang.
Untuk itulah, dengan pertimbangan kemanusiaan, pihak Pemerintah Desa mengeluarkan kebijakan pemerataan raskin. Sebab itu, jatah beras raskin yang diterima warga tidak sesuai dengan semestinya.
"Kebijakan itu sudah saya bicarakan kok sama warga, jauh hari sebelumnya dan mereka setuju. Dan saya rasa kebijakan serupa juga ada di Desa-Desa lainnya," kilah Suryanto, saat ditemui detiksurabaya.com dirumahnya.
Meski begitu, Kepala Desa tidak menampik jika dirinya 'memalsu' tanda tangan warga. Kades beralasan jika hal itu dilakukan tidak lebih hanya untuk efisiensi waktu disaat penyaluran raskin berlangsung. "Kasihan jika warga harus berlama-lama di kantor desa," kilahnya lagi.
Sementara, Kades juga tidak mengelak jika harga raskin yang disalurkannya sebesar Rp 27 ribu/saknya. Alasannya, lagi-lagi demi kemanusiaan. Sebab, uang selisih dari harga yang ditetapkan Pemerintah itu, untuk membantu warga miskin lainnya yang memang tidak mampu membeli beras raskin. Namun, itu inisiatif para Kepala Dusun dimasing-masing lingkungannya.
"uang itu untuk mengganti beras raskin yang disalurkan ke warga yang memang benar-benar tidak mampu. Seperti janda tua, orang jompo. Dan yang melakukannya para Kadus," jelas Suryanto, seakan mencari kambing hitam.
Apapun itu, lanjut Suryanto, jika nanti benar ada indikasi pelanggaran raskin seperti yang dituduhkan warga. Maka dirinya siap untuk bertanggung jawab. Namun, Suryanto menyakinkan jika hal itu tetaplah kabar yang tidak benar.
Selasa, 14 Juli 2009
27 PNS DI BANYUWANGI TERJARING RAZIA SATPOL PP
Sebanyak 27 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Banyuwangi terjaring inspeksi mendadak Satuan Polisi Pamong Praja. Mereka terjaring inpeksi saat asyik berada diluar kantor diwaktu jam dinas sedang berlangsung.
Inpeksi itu dilakukan Satpol PP dengan menyisir jalanan pusat kota Banyuwangi, antar pukul 09.00 sampai dengan pukul 11.30 WIB. Dalam penyisiran itu dipergoki para PNS yang sedang asyik nongkrong di dua warung kopi depan Universitas PGRI Banyuwangi dan sekitar simpang lima. Selama ini dua tempat itu diketahui sebagai tempat favorit para PNS mangkal di jam-jam dinas.
Karena tertangkap basah, para PNS 'nakal' itu memilih untuk pasrah. Namun ada pula yang berusaha melarikan diri dengan sepeda motornya. Bagi PNS yang tertangkap, diminta untuk mengisi surat pernyataan untuk tidak mengulangi kebiasaan buruknya tersebut.
Satpol PP juga menyisir sejumlah pusat perbelanjaan. Ditempat ini petugas memergoki beberapa PNS yang sedang berbelanja. Bahkan dua unit sepeda motor dinas yang berada dihalaman parkir turut diangkut.
Nama-nama PNS yang tertangkap itu akan dilaporkan Satpol PP ke Bupati. Hal itu dilakukan untuk memberikan pelajaran bagi oknum PNS tersebut.
"Kami ingin memberi shock terapi bagi mereka," jelas Agus Hidayat, Kepala Seksi Operasi dan Pengawas Satpol PP Banyuwangi, saat ditemui wartawan seusai melakukan razia, Selasa (14/7/2009) siang.
Selain PNS, dalam inpeksi mendadak tersebut. Satpol PP juga menjaring 11 pelajar SMA dan SMP. Para siwa tersebut dijaring saat asyik berada disekitaran pusat perbelanjaan dijam sekolah sedang berlangsung.
Baca Selengkapnya
Inpeksi itu dilakukan Satpol PP dengan menyisir jalanan pusat kota Banyuwangi, antar pukul 09.00 sampai dengan pukul 11.30 WIB. Dalam penyisiran itu dipergoki para PNS yang sedang asyik nongkrong di dua warung kopi depan Universitas PGRI Banyuwangi dan sekitar simpang lima. Selama ini dua tempat itu diketahui sebagai tempat favorit para PNS mangkal di jam-jam dinas.
Karena tertangkap basah, para PNS 'nakal' itu memilih untuk pasrah. Namun ada pula yang berusaha melarikan diri dengan sepeda motornya. Bagi PNS yang tertangkap, diminta untuk mengisi surat pernyataan untuk tidak mengulangi kebiasaan buruknya tersebut.
Satpol PP juga menyisir sejumlah pusat perbelanjaan. Ditempat ini petugas memergoki beberapa PNS yang sedang berbelanja. Bahkan dua unit sepeda motor dinas yang berada dihalaman parkir turut diangkut.
Nama-nama PNS yang tertangkap itu akan dilaporkan Satpol PP ke Bupati. Hal itu dilakukan untuk memberikan pelajaran bagi oknum PNS tersebut.
"Kami ingin memberi shock terapi bagi mereka," jelas Agus Hidayat, Kepala Seksi Operasi dan Pengawas Satpol PP Banyuwangi, saat ditemui wartawan seusai melakukan razia, Selasa (14/7/2009) siang.
Selain PNS, dalam inpeksi mendadak tersebut. Satpol PP juga menjaring 11 pelajar SMA dan SMP. Para siwa tersebut dijaring saat asyik berada disekitaran pusat perbelanjaan dijam sekolah sedang berlangsung.
GADIS MISTERIUS DITEMUKAN TERLANTAR DIKAWASAN PANTAI LAMPON
Warga kawasan pantai Lampon Desa Pesanggaran Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi dibuat gempar dengan penemuan sesosok gadis misterius. Gadis berambut sebahu tersebut ditemukan terlantar oleh salah seorang anggota marinir, disekitaran markas Marinir, Selasa (14/7/2009) sekitar pukul 09.00 WIB.
Untuk menelusuri asal usul serta identitasnya, akhirnya gadis misterius itu diserahkan petugas Marinir ke Polsek Pesanggaran. Namun sepertinya upaya Polisi itu menemui sedikit kendala. Korban sulit untuk dibawa komunikasi, meski sebetulnya dia dapat berbicara. Sepertinya kejiwaan korban sedang terguncang hebat.
Gadis berparas ayu itu hanya menjawab pertanyaan petugas seputar nama dan alamatnya dengan menulisnya disecarik kertas. Dalam pengakuannya ia bernama Emroky asal Jalan Kantil no. 12 Jember. Kedua orangtuanya bernama Edi dan Ndari. Selebihnya, korban tak mau menjawab pertanyaan petugas. Kini, gadis yang diperkirakan berusia antara 18-25 tahun itu dirawat di Puskemas Pesanggaran.
"Sepertinya dia mengalami depresi berat," jelas salah seorang petugas medis tanpa menyebutkan apa penyebabnya.
Polisi masih berupaya untuk menelusuri kejelasan alamat yang diberikan korban. Saat kali pertama ditemukan korban diketahui memakai singlet hitam kombinasi putih tanpa mengenakan BH. Selain itu, korban juga memakai celana ketat tiga perempat atau sebatas lutut dengan kombinasi warna hitam putih. Dari pemeriksaan petugas medis, korban juga diketahui sedang datang bulan.
Ciri-ciri khusus lainnya, kulit putih bersih, wajah bulat, ada tahi lalat di dahi sebelah kiri, leher kiri serta dagu sebelah kanan. Tinggi badan diperkirakan 160 cm. Badan korban agak gemuk serta memakai sebuah anting emas berbentuk kelopak bunga ditelinga kanannya.
"Semoga identitas gadis ini segera kami dapatkan,' jelas Kapolsek Pesanggaran, AKP Jodana Gunadi, saat ditemui dikantornya, jalan Sumberagung.
AKP Jodana juga berharap, bagi masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluaganya dengan ciri-ciri yang sama, dan atau mengenali korban dapat menghubungi Polsek Pesanggaran.
Baca Selengkapnya
Untuk menelusuri asal usul serta identitasnya, akhirnya gadis misterius itu diserahkan petugas Marinir ke Polsek Pesanggaran. Namun sepertinya upaya Polisi itu menemui sedikit kendala. Korban sulit untuk dibawa komunikasi, meski sebetulnya dia dapat berbicara. Sepertinya kejiwaan korban sedang terguncang hebat.
Gadis berparas ayu itu hanya menjawab pertanyaan petugas seputar nama dan alamatnya dengan menulisnya disecarik kertas. Dalam pengakuannya ia bernama Emroky asal Jalan Kantil no. 12 Jember. Kedua orangtuanya bernama Edi dan Ndari. Selebihnya, korban tak mau menjawab pertanyaan petugas. Kini, gadis yang diperkirakan berusia antara 18-25 tahun itu dirawat di Puskemas Pesanggaran.
"Sepertinya dia mengalami depresi berat," jelas salah seorang petugas medis tanpa menyebutkan apa penyebabnya.
Polisi masih berupaya untuk menelusuri kejelasan alamat yang diberikan korban. Saat kali pertama ditemukan korban diketahui memakai singlet hitam kombinasi putih tanpa mengenakan BH. Selain itu, korban juga memakai celana ketat tiga perempat atau sebatas lutut dengan kombinasi warna hitam putih. Dari pemeriksaan petugas medis, korban juga diketahui sedang datang bulan.
Ciri-ciri khusus lainnya, kulit putih bersih, wajah bulat, ada tahi lalat di dahi sebelah kiri, leher kiri serta dagu sebelah kanan. Tinggi badan diperkirakan 160 cm. Badan korban agak gemuk serta memakai sebuah anting emas berbentuk kelopak bunga ditelinga kanannya.
"Semoga identitas gadis ini segera kami dapatkan,' jelas Kapolsek Pesanggaran, AKP Jodana Gunadi, saat ditemui dikantornya, jalan Sumberagung.
AKP Jodana juga berharap, bagi masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluaganya dengan ciri-ciri yang sama, dan atau mengenali korban dapat menghubungi Polsek Pesanggaran.
Kamis, 02 Juli 2009
Cerita Kami Yang Pertama
Inilah cerita dari Pikcamp yang pertama, "Tujuan kami sich gak muluk-muluk, juga gak neko-neko.... 
, ingin semua orang tahu Banyuwangi, dari ujung ke ujung. Dan jika bisa, seluruh dunia jadi tahu kalau Banyuwangi itu ada, kaya, dan tempat menarik untuk tinggal, wisata, berinvestasi, dan berkarya. Bayangkan posisi kita jika dilihat di peta ditakdirkan menjadi suatu wilayah yang sangat strategis. Paling ujung timur pulau Jawa dan di sebelah timurnya tepat bertetangga dengan Pulau Bali yang mendunia itu. Ke selatan adalah Benua Australia dan jika ke utara adalah jalur ke antar pulau dan lepas ke benua Asia. Paling tidak, posisi Banyuwangi ini seperti kota Zhuhai di Tiongkok (China). Yang sudah pernah ke sana pasti tahu deh perkembangan kota Zhuhai. Bagi yang belum kita mau cerita dikit deh tentang Zhuhai.

Zhuhai adalah sebuah daerah setingkat Banyuwangi yang berhadapan dengan daerah wisata Makau, yang bekas jajahan Portugis itu lho. Meski terkenal sebagai tempat Judi, namun Makao tidak menyediakan wisata Judi sebagai produk wisata unggulannya. Sesungguhnya lebih dari itu, seni dan arsitekturnya bagus banget, karena memadukan made in China dan made in Portugis alias Eropa. Seperti halnya Zhuhai, Banyuwangi semestinya terkena imbas menjadi wilayah maju dari Bali. Artinya, punya kesempatan emas untuk menjadi suatu daerah yang terkenal di dunia. Sebagai penyuplai produk-produk daerah Bali.

Nah melihat kondisi negeri kita yang masih banyak hutangnya, cita-cita kami juga gak muluk-muluk, bukan mau merubah Banyuwangi seperti Zhuhai, tapi cuma ingin Banyuwangi jadi tempat yang nyaman bagi siapa saja, dirindukan oleh siapa saja, dan menarik untuk dijadikan rumah pertama dan kedua bagi siapa saja. Pendek kata, kami ingin semua orang Banyuwangi tahu kalau Banyuwangi is The Best.

Selain itu, jujur saja, kami juga punya tujuan untuk ngepulin asap dapur
, demi sesuap nasi, ngisi waktu, dan buka pekerjaan buat siapa saja yang punya pikiran sama dan baik ama kami. Jadi buat teman-teman, saudara-saudara, dan handai taulan, kami berharap banget bisa diberi ide, gagasan, dan bahkan turut serta di semua kegiatan kami .
Baca Selengkapnya
Zhuhai adalah sebuah daerah setingkat Banyuwangi yang berhadapan dengan daerah wisata Makau, yang bekas jajahan Portugis itu lho. Meski terkenal sebagai tempat Judi, namun Makao tidak menyediakan wisata Judi sebagai produk wisata unggulannya. Sesungguhnya lebih dari itu, seni dan arsitekturnya bagus banget, karena memadukan made in China dan made in Portugis alias Eropa. Seperti halnya Zhuhai, Banyuwangi semestinya terkena imbas menjadi wilayah maju dari Bali. Artinya, punya kesempatan emas untuk menjadi suatu daerah yang terkenal di dunia. Sebagai penyuplai produk-produk daerah Bali.
Nah melihat kondisi negeri kita yang masih banyak hutangnya, cita-cita kami juga gak muluk-muluk, bukan mau merubah Banyuwangi seperti Zhuhai, tapi cuma ingin Banyuwangi jadi tempat yang nyaman bagi siapa saja, dirindukan oleh siapa saja, dan menarik untuk dijadikan rumah pertama dan kedua bagi siapa saja. Pendek kata, kami ingin semua orang Banyuwangi tahu kalau Banyuwangi is The Best.
Selain itu, jujur saja, kami juga punya tujuan untuk ngepulin asap dapur
Langganan:
Postingan (Atom)
Pasang Banner Di Sini Hubungi Kami